Kontradiksi, Pertumbuhan Ekonomi Tinggi

Bojonegoro salah satu kabupaten di Jawa Timur, siapa sangka yang dulu pernah ditulis kisahnya oleh Sejahrawan Australia, Panders menulis yang di era colonial Belanda Bojonegoro menjadi daerah endemic poverty dengan kemiskinan lebih dari 28 persen, namun siapa sangka kini kabupaten yang dengan julukan barunya sebagai Kota Minyak perlahan lahan berhasil keluar dari kutukan  kemiskinan yang menular seperti yang ditulis oleh Panders. Penulis juga adalah perempuan asli Bojonegoro, yang telah  25 tahun tinggal dan menepi di kota ini, berbagai perubahan dan dinamika menghiasi lalu lalang kota ini. Bak anak kecil yang mulai beranjak dewasa seperti perubahan yang terjadi di kota ini,  kota endemis kemiskinan kini mulai bersolek, Bojonegoro mulai mendunia, dengan slogan yang mulai dikampanyekan, Bojonegoro mulai disejajarkan dengan Paris, Tokyo, Seoul dan kota kota besar lainnya, sedemikian drastisnya perubahan yang terjadi?apa yang telah dilakukan oleh pemerintah kota ini sehingga begitu signifikan mengubah stigma kotamiskinan menjadi mendunia, jangan salah beberapa waktu yang lalu Bojonegoro dengan lantang menuarakan bela Negara dengan mendeklarasikan 7 hal yakni mewujudkan kedaulatan pangan, kedaulatan energy, ramah HAM, Revolusi mental, Ketahanan Bencana, Sustaineble Development Goals, dan Open Government Parnership. Ayo siapa yang malu mengaku dari Bojonegoro yang sekarang?

AkucahjonegoroPembangunan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Bojonegoro 5 tahun terakir sepertinya patut untuk diapresiasi, walaupun banyak juga yang bilang bahwa 5 tahun ini Bojonegoro masih sama aja,  jika ditilik dari dana APBD, terjadi pekembangan yang sangat kelihatan dari tahun ketahun, pada 2010 lalu APBD bojonegoro sebesar Rp1 triliun, lima tahun kemudian, yakni tepat di tahun 2015, APBD Bojonegoro menyentuh Rp2,9 triliun, dan tahun ini APBD ditarget menjadi 3,6 triliun, jumlah yang terus meningkat setiap tahunnya disumbang dengan adanya pemanfaatan sumber daya alam berupa Minyak Bumi yang ada di kabupaten Bojonegoro, seperti pada APBD tahun 2016 yang ditarget sebanyak 3,6 pemasukan terbesar berasal dari dana bagi hasil (DBH)Migas, yakni sebesar Rp. 1,4 triliun target itu, sesuai hasil kebijakan umum dan plafon prioritas anggaran sementara (KUA PPAS) tahun 2016.

Pertumbuhan ekonomi yang melejit juga patut membuat pemerintah kota ini senyum senyum sendiri, 19,47 %, tertinggi dari kabupaten kabupaten di Jawa Timur bahkan ada yang mengklaim pertumbuhan ekonomi tersebut juga melampaui Tiongkok, ilustrasinya adalah dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka tingkat kesejahteraan masyarakat juga mulai membaik, ya kan?

Penulis akan membahas  sedikit tentang pertumbuhan ekonomi, Indikator pertumbuhan ekonomi yg umum dipakai adalah pertumbuhan GDP (gross domestic product) atau PDB (pendapatan domestik bruto). Ketika suatu daerah mengalami pertumbuhan GDP secara kontinyu, maka secara sistematis akan ada 4 dampak dan proses yang terjadi, yaitu, Akumulasi pemanfaatan sumber daya untuk meningkatkan kapasitas produksi ekonomi daerah, Ketika GDP bertumbuh, maka kapasitas produksi pasti bertumbuh sehingga makin banyak perusahaan dan tentunya lapangan kerja semakin terbuka, Alokasi, adanya interaksi dalam proses akumulasi tersebut sehingga pada gilirannya akan mengubah keunggulan komparatif dalam memproduksi dan pola hidup serta konsumsi masyarakat akan berubah, Demografi, pertumbuhan ekonomi yang semakin baik, penerimaan daerah juga meningkat, Sehingga pemerintah akan lebih banyak anggaran untuk pelayanan kesehatan Sehingga diharapkan tingkat kematian menurun dan SDM yang ada mendapat gizi yang baik, Distribusi, pada akhirnya dengan pertumbuhan ekonomi yang terus berkelanjutan, dengan ketiga dampak dan proses diatas, kesenjangan ekonomi bisa lebih mengecil.

Lalu bagaimana dengan Bojonegoro? Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Bojonegoro tersebut terkerek dengan adanya produksi Minyak dan Gas Bumi yang menjadi penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi tersebut selain dari sector non migas, di tahun 2015 sektor non migas  tumbuh hingga mencapai angka 5,9% dan pencapaian ini berada di atas rata rata nasional maupun Jawa Timur.  Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi, sudah berdampak pada turunnya tingkat kemiskinan di Bojonegoro, yakni mencapai angka 1%.  tetapi berjalannya waktu, Bojonegoro terus mengalami perubahan, sehingga di tahun 2015 tingkat kemiskinan sudah berkurang lebih 50%. Dengan hasil dari indek rasio yang telah mencapai sekitar 0,24,  maka Bojonegoro dinilai sudah mengalami pemerataan kesejahtaraan rakyat.  Dari hasil pencapaian ini, dikarenakan beberapa strategi yang menjadi kunci kebijakan telah dipenuhi mengutip pernyataan Bupati Bojonegoro

Kisah Rindi,

Siapa Rindi? Apa hubungannya dengan tulisan yang ditulis berlarik larik diatas? Rindi adalah salah satu pelajar  di Bojonegoro (Radar Bojonegoro, Senin 16 Mei 2016). Bocah asal desa Napis kecamatan Tambakrejo Nampak belajar di tengah tengah remang remang cahaya ublik (Lampu Damar Minyak Tanah) untuk mempersiapkan ujian sekolah beberapa waktu yang lalu, mungkin hal serupa juga dialami teman teman Rindi yang lainnya di SDN Napis VI, Dusun Tawaran desa Napis Kecamatan Tambakrejo. Kenapa belajar hanya diterangi temaramnya lampu minyak gas tersebut, apakah lampu mati? Ternyata tidak, kawasan tersebut memang wilayah yang belum teraliri listrik, itu hanya untuk belajar?lalu bagaimana aktivitas masyarakat yang lainnya yang tanpa aliran listrik, bukankah listrik menjadi kebutuhan dasar ?,

Ternyata pengalaman belajar dengan diterangi cahaya ublik tidak hanya dialami rindi dan kawan kawannya saja di dusun tawaran desa Napis, tapi juga dialami oleh masyarakat tersebar di 7 kecamatan, yakni  Kecamatan Sekar, Tambakrejo, Ngambon, Gondang, Ngasem, Sumberejo, dan Kecamatan Temayang yang menurut data yang dihimpun penulis ada sekitar 84 dusun terisolir yang tersebar di kacamatan diatas yang belum terjamah listrik.

Kisah Rindi bukan hanya soal belajar menggunakan ublik saja untuk mempersiapkan ujian sekolah, untuk kesekolah pun rindi dan kawan kawannya harus berjuang menempuh jalan yang amat jauh melintasi perbukitan dan hutan untuk sampai kesekolahnya, hal yang ama juga dirasakan oleh para pendidik di sekolah tersebut. Seperti yang ditulis di Radar Bojonegoro bahkan ada beberapa siswa yang harus menyeberangi sungai dengan menceburkan diri ke air untuk bisa sampai kesekolah.

Penulis juga sempat beberapa kali memperhatikan gambar gambar yang mulai viral yang senagaja di upload entah oleh pengguna jalan tersebut atau khalayak yang menunjukkan kondisi jalan di beberapa wilayah di Bojonegoro yang rusak parah, ada berlumpur ketika hujan, menurut hastag gambar tersebut adalah jalan jalan yang berada di wilayah pinggiran kota Bojonegoro, yang letaknya jauh dari kota dan cukup sulit untuk dijangkau, namun penulis tidak menjamin keabsahan gambar jalan tersebut ya, entah itu asli atau palsu, namun gambar yang di upload tersebut merupakan suara netizen Bojonegoro yang perlu juga untuk disikapi.

Sejatinya angka pertumbuhan ekonomi kabupaten Bojonegoro yang cukup tinggi mencapai 19.47 persen bisa menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakatnya yang makin membaik, Sebab pertumbuhan ekonomi suatu wilayah sesungguhnya digerakan oleh pemanfaatan berbagai potensi sumber daya alam di daerah yang memicu tingkat produktifitas masyarakat atau justru pemanfaatan sumberdaya alam yang menjadi pemicu tingginya pertumbuhan ekonomi hanya melahirkan sebuah ironi kehidupan masyarakat yang hanya menciptakan kesenjangan sosial yang cukup lebar di tengah masyarakat, seperti kisah Rindi diatas, entahlah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s