Cintai Cinta Itu Sendiri

Pertama akhirnya tulisan ini berhasil di wujudkan juga, setelah idenya berkeliaran di kepala sejak kemarin, karena bersebab jadi menuliskannya baru lima belas menit yang lalu. Kedua ijinkan saya memasang foto humanis dan romantis tipis ini, sebagai pesimbolan dari judul yang saya pilih. Sory ya bre kupinjam  senyum dan tatapan yang menyala nyala itu untuk semakin meneguhkan bukti otentik bahwa cinta memiliki energi tak terhingga yang bisa diterjemahkan lewat foto kalian ini hahaha

Terlalu banyak kalimat tentang bahasan Cinta, satu kata dengan beribu pemaknaan, dan ditulisan ini tidak serta merta berbicara filosifis tentang cinta. Biar saja antar hati yang berkomunikasi menjelaskan segalanya melalui rasa. Judul diatas sengaja saya cuplik dari salah satu scene di film ayat ayat cinta yang diucapkan oleh Fahri, saya sangat terkesima dengan kedalaman pemaknaannya, meski di film ayat ayat cinta sendiri menurut saya tidak sepenuhnya menggambarkan pencintaan yang benar benar penuh cinta

Penggambaran cinta yang terlampau absurb, karena tidak akan ada orang seperti Fahri di dunia nyata, dengan kecintaannya, kemurahannya, kebaikannya, terlalu out of logic, sehingga energi cinta dalam film ini tidak bisa sampai dihati saya, sedikit mereview sih setelah melihat film ini saya tidak ingin menontonnya lagi, oya betewe soal film cinta saya ada rekomendasi bagus, tonton saja Habibi dan Ainun atau Realita cinta rock and roll, itu versi saya sih hohoho

Soal cinta, hari ini menjadi tema yang sedang menarik untuk dipergunakam frasanya di berbagai kesempatan dan boleh saya tambahi kepentingan ya, Sewaktu melintas jalanan sepulang dari berkegiatan tiba tiba pandangan saya terlempar pada  baliho besar yang terpampang di pinggiran jalan, seperti biasanya baliho dipasang untuk memberikan informasi yang bersifat mempersuasi, yang menarik adalah adanya pencatutan kata kata cinta disana. Secara etimologi tidak ada soal dengan pemilihan katanya namun yang perlu dipahami ini menarik secara konteks pesan yang ingin disampaikan, yakni  membangun relasi emosi dengan pemilihan kata kata humanis seperti cinta dan sebagainya

Cinta bisa dikaitkan dengan pilihan emosi, dan emosi bersifat fluktuatif sesuai dengan kondisi psikologis, sehingga pemilihan berdasarkan emosi di beberapa hal kurang dibenarkan. Memilih pemimpin misalnya, tidak cukup atas dasar kesukaan atau kecintaan misalnya, karena terkadang hal hal yang mendasari munculnya gejolak emosi ini terjadi atas pondasi bias yang tidak bisa diukur secara konkrit. Bisa saja baliho yang mulai bertebaran dijalanan itu adalah pemantik untuk memunculkan rasa simpatik, ini adalah salah satu komunikasi simbolik yang dipergunakan untuk merebut hati pemilih. Padahal faktanya pemilihan kesan yang dimau oleh para pemilih sedang dipersiapkan oleh para konsultan politik.Konkritnya bahwa cara paling mudah untuk dapat dipilih adalah menampilkan diri menjadi sebaik baiknya pilihan dan dalam hal ini mulailah politik penciteraan berjalan.

Dan harapannya memilih pemimpin bukan hanya soal citra yang ditampilkan, tapi pilihlah berdasar visi kedepan, kepemimpinannya yang bisa dilihat dari rekam jejaknya dalam menyelesaikan problem problem massa. Dan ukuran ukuran tersebut tidak bisa dirasa seperti merasai cinta, karena “cinta” sendiri selalu tidak penah menemukan alasan untuk dicintai
Dan akhirnya harus ada penyikapan yang bijak soal penempatkan cinta sesuai dengan esensinya, menempatkannya pada tempat yang tepat, karena cinta akan selalu menemukan jalannya sendiri

from Dwi, with Love

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s