Manusia Produktif Versi Indonesia

Hampir di semua kanal jagat maya, pemberitaan tidak terlepas dari merk virus bernama Corona, seakan kan kembali membangkitkan kenangan lama mobil favorit tahun 89 an, Toyota Corona. Tapi corona yang ini tidak main main, bukan sekedar kenangan yang hilang, nyawa pun melayang. Tidak tanggung tanggung, virus bernama asli 2019-nCov itu berhasil membuat kita semua jadi begidik dan semakin menjaga marwah sebagai manusia yg syar’i, tidak bersentuhan dengan sesama manusia lain, memakai pelindung di sekujur tubuh, karena memang virus tersebut mudah menular melalui jalur udara. Keberadaan virus tersebut memang belum menjangkiti wilayah Indonesia, Naudzubillaah Mindzalikk Ojokk Sampeek! namun persebarannya sangat cepat, korban meninggal yang disebabkan virus tersebut juga terus bertambah. Menurut data trakhir dari pusat kesehatan Hubei (China), jumlah orang terinfeksi sejauh ini, mencapai lebih dari 16ribu orang yg telah menyebar ke 20 negara, dengan korban meninggal lebih dari 300 orang, di berbagai negara seperti, China, Hongkong, Jepang, Thailand, India dll. Bahkan pusat organisasi kesehatan dunia WHO mengumumkan bahwa dunia mengalami darurat global virus Corona.

Virus corona pertama kali diduga ditemukan di pusat seafood market yang terletak di pasar hewan Wuhan, China. Virus virus tersebut, disinyalir banyak menyerang penjual hewan hewan liar yang turut diperjual belikan, semacam Tikus, Ular phyton, anjing, kelelawar, katak, beserta hewan harom lain, yang tidak layak di konsumsi. Hingga saat ini, pasar Seafood Wuhan telah ditutup dan ditetapkan sebagai Ground Zero penyebaran Corona virus. Akibatnya, perhatian dunia mengucur deras ke China, selain soal virusnya, menarik menyimak berbagai hal yang dilakukan oleh pemerintah China, terkhusus dalam menanggulangi penyebaran corona Virus. Salah satunya adalah, pembangunan Rumah Sakit khusus penderita Corona Virus, mata dunia sedang tertuju pada langkah cepat pemerintah China dalam melakukan eksekusi, tidak main main, membangun rumah sakit yang dilakukan hanya dalam waktu sepuluh hari, iya, kita tulis ulang pake huruf besar semua, SEPULUH HARI. Rumah sakit yang direncanakan mampu menampung 1000 pasien corona virus tersebut rencananya akan di resmi dibuka pada 5 Februari mendatang.

Dengan adanya corona virus di China, mata kita sebagai warga Indonesia, sebagai negara yang masih terus berkembang, akan melek melihat betapa progresifnya pemerintah China dalam menanggulangi penyebaran virus corona di negaranya. Membangun Rumah Sakit hanya dalam waktu 10 hari. Ini bukan membangun Lego, menata menjadi mainan anak-anak berbentuk istana, atau mobil mobilan ya, ini rumah sakit, yang kedepan diharapkan mampu menjadi isolation room corona virus. Betapa sigapnya, bentuk upaya penanggulangan itu dilakukan dengan langkah konkrit dan langsung berdampak. Sebagai warga +62 kita sedang ditunjukkan bagaimanya menyelesaikan persoalan darurot dengan eksekusi langsung tanpa banyak berdebat atau adu argumen, dengan masalah yang jelas, langkah penyelesaiannya pun tidak lagi diandai andaikan, lalu di urai lagi lebih lanjut sehingga ujung ujungnya, tidak ada tindakan pasti. Mungkin, Tuhan juga memikirkan untuk memberikan musibah sesuai dengan kapasitasnya, kita mengandai andaikan jika Corona Virus ini menyerang Indonesia, what a shock!, jangan kan membangun RS sakit dalam 10 hari, yang ada, sebelum membangun, akan banyak dulu tataran birokrasi yang teramat ruwet yang harus dilalui, siapa yang berkewajiban membangun, pemerintah pusat kah, daerah kah, haeemmm. Belum lagi e procurement, pemenang tender, pelaksana proyek, sampai sampai komentar maha benar Netijen +62 dengan segala bacodnya. DPR anggota koalisi dan oposisi yang saling adu argumen. Yang ada, akan banyak bermunculan fatwa, bahwa kita harus menerima azab yang pedih, akibat banyak melakukan maksiat, memilih presiden kafir, dll. Menengok kembali ke China, pembangunan Rumah Sakit dalam waktu 10 Hari memang bukan hal yang enteng, ada sebuah kolaborasi teknis, konsep maupun pendekatan kebijakan yang sinergi dan sinambung. Dalam tataran kebijakan, Pemerintah China melakukan gerak cepat, mengalokasikan sumber daya modal, sumber daya kuasa untuk mengambil sebuah kebijakan pasti, hal tersebut tentu diikuti dengan dukungan finansial dan sumberdaya yang cukup. Jika mau merunut ke atas lagi, tataran birokasi memang akan labih mudah, hal tersebut dkarenakan China hanya memiliki satu Partai, yakni Partai Komunis. Dalam tulisan ini tidak sedang akan menceritakan soal politik. Yang kedua, kolaborasi pekerjaan teknis, kita semua tahu, bukan tempe. bahwa membangun adalah melakukan tindak yang terencana menurut konsep yang telah dibuat, dengan memadukan keterampilan teknis konstruksi dan konsep yang matang Membangun bangunan diatas tanah 25.000 m2, dalam 10 hari. Memerlukan kerja produktif yang terorganisir dengan baik, tidak asal asalan. Terget yang telah dipatok tersebut, diturunkan kedalam kerja kerja berstrategi dengan mengandalkan kemampuan pekerja yang tidak doyan ngrumpi, tidak doyan lelet, semuanya terukur dan memiliki produktifitas tinggi.

Manusia China mampu?, Faktanya, pembangunan tempo kilat tersebut bukan kali pertama yang dilakukan oleh negara tirai bambu tersebut. Sebelumnya, negara ini juga membangun rumah sakit untuk penderita Sars dan Mers pada 2013 lalu, bahkan pembangunan stasiun kereta api yang hanya membutuhkan waktu 24 jam. Ini manusia manusia China bro!!. China merupakan negara dengan penduduk terbesar di dunia, dengan bonus jumlah penduduk yang jumbo tersebut dapat di optimalkan untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan ekonomi negara tersebut, China menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi besar di Asia, bahkan menyandingi negara negara maju semacam Amerika, Jepang dan kawan kawannya. Hal mudah yang bisa kita saksikan, berbagai produk made in China banjir dimana mana, mulai dari barang barang retjeh macam pensil, peniti, sampai moda transportasi kereta api, hape yang dipakai penulis juga madein chino. Ini menunjukkan bahwa China memang menguasai pasar baik lokal maupun internasional. Bagaimana ini bisa? Salah satu koentji nya adalah Sumber Daya Manusia, pemerintah China berhasil mengkonversikan sumber daya manusia yang jumlahnya besar tersebut kedalam kerja kerja berhasilkan berbagai produk, hal ini menunjukkan produktivitas manusia China memang tinggi.

Berbicara soal produktivitas tenaga kerja, bagaimana dengan Indonesia? Data terakhir yang diketahui menurut survey yang dilakukan oleh Japan External Trade Organization (Jetro) menunjukkan 55,8 perusahaan jepang tidak puas dengan produktivitas tenaga kerja RI, hal itu dianggap tidak seimbang dengan upah minimum tinggi yang dikeluarkan. Angka 55,8 dianggap lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara lain di asia tenggara, dengan angka ketidak ketidak puasan soal kinerja ini hanya menyentuh angka 30 persen an. Bagaimana gambaran produktivitas manusia Indonesia di asia tenggara sendiri?, Produktivitas manusia Indonesia menempati urutan ketiga terbawah diantara nega ra negara lain di Asis tenggara. Apakah sedemikian santuy nya warga +62 ya?

Produktivitas diukur dengan cara menghitung jumlah input yang dikeluarkan, yang meliputi tenaga kerja, biaya produksi, alat alat produksi, yang akan mengeluarkan output atau keluaran berupa produk produk dan jasa. Jika input yang dikeluarkan lebih besar dari produk yang dihasilkan, maka disinilah letak kesenjangan, yang diturunkan menjadi tingkat produktivitas yang tidak sesuai dengan pengeluaran. Dalam hal ini menghitung produktivitas manusia berdasar output output yang telah ditentukan, sesuai atau tidak? Apa yang mempengaruhinya?, kualitas tenaga kerja yang meliputi skill, kecepatan, ketepatan, semakin produktif, semakin banyak produk yang dihasilkan dalam waktu yang se efektif mungkin.

Jadi masalahnya dimana? Bonus sumber daya manusia yang besar tidak secara otomatis membuat peningkatan ekonomi suatu negara, bonus yang besar tersebut harus dapat dioptimalkan untuk menjadi keuanggulan. Meningkatkan skill, kapasitas dan daya kerja masyarakat dapat menjadi opsi wajib bagi negara untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Ekonomi yang berkembang akan meningkatkan daya beli masyarakat, daya beli yang meningkat merupakan salah satu indikator meningkatnya kesejahtaraan.

Jadi pekerjaan besar pemerintah adalah, berfokus pada peningkatan SDM, dari sisi produktivitas dengan cara melakukan skilling up, menaikkan daya kerja, membekali dengan keterampilan keterampilan khusus hingga menyiapkan mental pekerja yang berfokus pada hasil dan kualitas minim ngrumpi, tak fokus, dan jandoman. Jangan sampai produktivitas manusia Indonesia hari ini, dijaman 5.0, kalah dari manusia Indonesia jaman old, yang dengan mudah membangun candi dalam semalam seperti kisah roro jonggrang dan bandung bondowoso.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s