Tabu Dengan Yang Beda-Beda

Tiga hari lalu, saya bertemu salah satu kawan lama, teman ketika kita masih sama sama bermain teater di Sekolah Menengah Atas waktu itu. Dia salah satu pemain teater yang jago, selain pintar acting, ia juga pandai bernyanyi. Lebih dari dua puluhan piala berjejer di lemari ruang tamu rumahnya. Sebagai bukti memang keahlian tarik suaranya diakui. Setelah hampir 4 tahun an, baru siang kemarin kami bertemu, dengan kabar yang kurang mengenakkan, menurut ceritanya, sudah setahunan lebih dia bercerai dengan suaminya. Dengan satu anak berusia lima tahunan. Salah satu alasan yang disampaikan, sudah tak lagi menemukan kecocokan diantara mereka. Hal yang cocok, bisa berarti banyak yang sama, jadi sebaliknya, jika tak cocok, berarti banyak yang tidak sama, bisa juga banyak perbedaan diantara keduanya.

Dalam kehidupan keluarga kecil kami, hal yang dapat menyatukan saya dan suami adalah Soal makan dan liburan. Lewat rica rica ceker kami asyik berdiskusi soal anak anak, cicilan, bercinta, dll, sambil menikmati roasting lombok kriting yang lulus membuat mulut terbakar, keringat mengucur. Soal yang paling membuat kami tak pernah ketemu, soal ide memberi nama calon bayi kami. Soal memilih karaoke atau nonton film bioskop. Bagi kami yah wajar wajar saja, tiap kepala beda isinya.

Banyak kasus, dan problematika kehidupan di masyarakat, disebabkan oleh perbedaan, perbedaan dianggap sebagai biang kerok munculnya masalah masalah. Sepasang suami istri bercerai, karena menganggap sudah tak sejalan lagi. Banyak yang dulunya sama, sekarang jadi berbeda. Beberapa organisasi saling melakukan tindakan amoral, yg berujung pada aksi anarkis, dikarenakan beda cara pandang. Kaum minoritas mendapatkan perlakuan yang tidak setara karena dianggap berbeda dengan kebanyakan. Yang paling ekstrim, perbedaan ini juga dianggap menjadi pemicu munculnya problematika struktural kebangsaan, berawal dari hal hal sensitif antar pribadi yang diteriakkan, Misalnya soal kepercayaan dan agama, Ras, Etnis, Suku,Apalagi, ketika hal hal sensitif tersebut sengaja dihembuskan untuk kepentingan tertentu. Sungguh ngeri sekali efeknya

Di Negara ini banyak sekali perbedaan, mulai dari bahasa, suku bangsa, etnis, Ras, adat, budaya, sampai agama dan kepercayaan. Indonesia terdiri dari beraneka ragam budaya. Bagaimana negara ini mengakomodir perbedaan perbedaan yang ada itu?, Kiranya sudah selesai pembahasannya, Pancasila menjadi kunci pemersatu bangsa. Bhineka Tunggal Ika. Walaupun berbeda beda tapi tetap satu. Sehingga pada prakteknya, tidak perlu lagi ada paham yang berlebihan, untuk meletup letupkan salah satu diantaranya. Cukup nasionalisme dalam satu Indonesia.

Namun sayangnya tidak semudah itu, Faktanya memang sebagian dari kita tidak cukup mampu untuk mengontrol egosentrisme masing masing. Sehingga muncullah paham fanatisme yang berlebihan. Parahnya lagi, perbedaan yang memang sudah nampak itu semakin ditebali, semakin di jelaskan bedanya, untuk ditarik pada sebuah kepentingan satu atau dua golongan. Sedangkan yang menjadi alat sendiri tidak merasa. Justru semakin merasa harus terdepan diantara yang lain.

Berbicara hari ini, bangsa Indonesia sedang dilanda demam mendewakan perbedaan, Berbagai aksi non toleran banyak terjadi, pemburaan paksa peribadatan oleh ormas tertentu, intimidasi etnis minoritas, pengusiran suku suku minoritas hingga penyerangan yang berujung pada tindak kekerasan. Akibatnya, persatuan semakin meregang, masyarakatnya disibukkan dengan perkara non substansial soal beda qunut dan tidak, beda larangan mengucapkan selamat natal, tahlil atau tidak. Bidah dan lain sebagainya

Yang kemudian tidak disadari, bahwa perbedaan sudah ada sejak dulu. Dan semestinya hal ini menjadi sebuah keanekaragaman yang harus diterima. Yang sudah jelas berbeda, ada perbedaan, yang sama, masih ada irisan perbedaannya pula. Dalam islam misalnya, Ada berbagai golongan yang berangkat dari mazab yang berbeda, ada NU, Muhammadiyah, Nasqabandiyah, LDII, dan masih banyak lagi. Belum lagi soal tafsir berbagai dalil diantara sub sub organ islam tersebut. Sudah bisa dipastikan, banyak yang tidak sama diantaranya. Di Agama Kristen pun sama, Ada aliran aliran diagama kristen yang berangkat dari paham yang berbeda, ada Kristen Jawa, Kristen Pantekosta, Kristen Katolik dll.

Beberapa waktu yang lalu, dan setiap tahunnya, hot trending Natal pasti muncul, boleh atau tidak mengucapkan selamat natal?, Yang ahli dalil, sudah pasti punya dalil yang sama shohehnya, antara yang membolehkan atau tidak. Sebagai manusia dengan kadar iman yang tipis tipis, dan sebagai manusia dalam bagian kemanusiaan Indonesia, bagi saya, boleh atau tidak, tinggal bagaimana meyakini menurut keimanan masing masing. Mau mengucapkan atau tidaknya, monggo dikembalikan ke pribadi masing masing. Mau mengucapkan silahkan, yang tidak mengucapkan juga silahkan. Toh, orang nasrani pun akan tetap merayakan natal tanpa ucapan dari kita. Jadi, kebanyakan kita sendiri yang senang mengumbar perang syaraf soal perbedaan dengan senjata dalil untuk saling menyerang dan berperang

Inti dari toleransi dalam umat beragama adalah menghormati setiap mahluk untuk dapat meyakini, menjalankan peribadatan mereka sesuai dengan kaidah yang mengatur agama masing masing. Jika pada natal kemarin, banyak dari saudara muslim ikut serta menjaga gereja, ikut serta mensukseskan perayaan natal dengan berbagai kegiatan, ya, ini semoga dalam rangka penghormatan terhadap satu pemeluk agama lain, tanpa masuk ke dalam ranah fikih dan akidah, ini versi islam. Yang tidak setuju, lalu mulai memblow up, kutipan dalil dalil pelarangan, di berbagai saluran medsos dengan tambahan caption, kutipan neraka, kafir dan lain lain. Bisa kita tarik dan resapi dalam dalam, apakah benar sejahat itu wajah agama kita?

Hemmmm. Ini adalah contoh, melebih lebihkan perbedaan dalam hal keyakinan bergama.

Pada akhirnya, perbedaan adalah sebuah takdir yang sengaja diciptakan oleh Tuhan. Bisa saja, jika Tuhan mau, menciptakan segala sesuatunya dalam bentuk yang sama dan seragam. Betapa akan sangat membosankannya kehidupan, karena isinya akan itu itu saja. Ya kan? Di kolong langit manapun berbedaan itu akan selalu ada, jadi menghadapi yang berbeda itu bukan sebuah musibah, bukan sebuah aib, yang paling benar menurut sudut pandang satu orang, belum tentu benar menurut sudut pandang yang lain. Dalam sebuah diskusi, semakin banyak pendapat, akan semakin banyak pula opsi solusi, semakin banyak yang mikir, semakin banyak jalan menuju penyelesaian masalah.

Kolaborasi adalah kunci. Negara ini sama sekali tidak kekurangan masalah, masalah hutang, masalah kesehatan, kemiskinan, kesenjangan, pendidikan. Dan masalah lain yang memperlambat bangsa ini menjadi sejahtera. Harusnya, jika hari ini kita lebih sibuk pada masalah masalah sensitif yang lahir dari perbedaan, sungguh sangat efektif dan efisien jika kita bersama sama berfokus pada masalah masalah sosial dinegeri ini, Bersama sama terlibat dalam kerja kerja sosial, respek terhadap persoalan teraktual ditengah tengah masyarakat.

Alangkah efektifnya, jika dari pada sibuk membesar besarkan masalah bidah dan ucapan natal, kita ikut mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, penggusuran PKL, tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, mahalnya biaya kesehatan, pencemaran lingkungan, dan banyak masalah krusial lain. Ini lah, bentuk konkret kolaborasi anak anak manusia didalam tataran warga negara yang toleran. Kalau yang berbeda beda itu tidak perlu lagi jadi soal. Sudah saatnya kita berfokus pada esensi masalah substansial bukan pada tataran hal yang akan semakin memperlebar jurang perbedan.

Ditahun baru yang kurang hitungan hari ini, mari lah kita berubah menjadi manusia yang lebih woles, manusia yang mampu melebarkan pemikiran dan hati. Manusia yang mampu menjadi rahmat bagi manusia yang lain.


Jika beberapa waktu yang lalu, Nisa Sabyan sudah datang, Didi Kempot pun sudah berhasil bikin ambyar, semoga kita tidak terlena dengan hiburan, dan lupa dengan masalah, masih banyak jalanan perlu diperbaiki, pertanian butuh di air i, gedung gedung sekolah perlu di renovasi, pedagang kecil perlu dilindungi, masyarakat miskin perlu di layani.

Sudah saatnya kita ambil bagian, masyarakat adalah subjek dalam pembangunan, saatnya kita bangun mental menjadi manusia yang produktif dan Energik. Baik dalam berkarya, berkerja, dan memberikan kritik.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s