Digitalisasi Desa Part 2

Secara Etimologis, akar kata teknologi adalah “techne” yang berarti serangkaian metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan sebuah objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang metode dan seni. Tapi di konteks facebook yang banyak pemirsanya ini, kita permudah saja artinya, Teknologi adalah alat atau fungsi yang dapat mempermudah manusia dalam melakukan sesuatu. Ya intinya, keberdaannya dapat membuat mudah, efisien, efektif dan dapat menghasilkan nilai lebih.

Melanjutkan tulisan beberapa waktu lalu, teknologi juga tak luput harus menjadi berkah bagi penyelenggaraan pemerintah, yang didalamnya mencakup perencanaan pembangunan, pelayanan administrasi, dll. Teknologi harus mempu menjawab kebutuhan dibidang pelayanan dan penyelenggaran pemerintah. Baik di tingkat pusat, daerah, bahkan desa. Di tingkat pusat kita mulai familier dengan beberapa sistem yg mulai digunakan, seperti E Budgetting, E Procurement, dan E E lain lainnya, yang disinyalir bakal semakin mempermudah, memper efisien, dan menjaga keakuntabilitas dan transparansian, pengadaan dan perencanaan pembangunan.

Lalu bagaimana dengan desa?, sebagai miniatur negara, desa sudah selayaknya juga memiliki fungsi pelayanan kepada masyarakat meski dalam skala lokal, pembangunan kawasan, pembangunan manusia desa, pendidikan, pemberdayan dan bidang bidang lain, sehingga digitalisasi mau tidak mau juga harus menyentuh desa. Digitalisasi yang seperti apa? Tentu tujuan dan maksudnya harus jelas terlebih dahulu, kira kira apa yang mau di digital kan. Digitalisasi berkaitan erat dengan teknologi, terutama teknologi informasi. Keberadaannya diharapkan mampu mengakselerasi tuntutan kebutuhan ditingkat desa. Dibidang pelayanan publik misalnya, pelayanan administrasi dan persuratan, bisa melalui satu pintu, dapat diakses online atau bahkan warga bisa mencetak sendiri dirumah, ke desa untuk memintakan pengesahan saja. Ini misalnya. Di bidang ekonomi lain lagi, pemanfaatan teknologi dalam pemasaran potensi dan produk desa misalnya, ada marketplace khusus produk produk desa. Dibidang kependudukan, data kependudukan warga tersimpan dalam database yang bisa dengan mudah diakses untk kemudahan pelayanan, dan sebagainya. Itu contoh praktek digitalisasi di lingkup desa.

Lalu bagaimana praktek desa hari ini? Berbicara soal digital di desa. Sebenarnya praktek praktek berbah teknologi sudah jamak ada. Website desa?. Pernah ada. Aplikasi sistem keuangan? ada. Aplikasi data profil desa?. Ada. Dan yg lain lain. Ini adalah contoh bahwa dikonteks digitalisasi secara tidak langsung sudah mulai masuk desa. Dengan kenyataan yang demikian, sudah seberapa efektifkah keberadaan teknologi dalam penunjang pelayanan masyarakat di tingkat desa?banyak riset dan kajian untuk menjawab hal tersebut. Faktanya, soal mendasar seperti data, masih banyak simpang siur hingga undet undetan di tingkat desa. Implikasinya. Contoh paling viral. Penerima bantuan sering salah tukar. Misal PKH. BPNT. Dan sejenisnya. Orang-orang yang notabene layak tidak masuk. Yang masuk tidak layak. Akhirnya protes di sana sini. Sebagai pemangku kebijakan desa lalu berdalih. Ini datanya sudah dari atas, turunnya juga begini. Padahal jika di pikirkan secara benar, dari mana orang “Atas” punya pengusulan, jika tidak dari bawah?. Itulah salah satu bahwa kesemerawutan desa soal data perlu diselesaikan dengan databased warga. yang terupdate secara berkala. Dan disinilah pesan digitalisasi desa perlu di dilakukan. Selain itu? Banyak lagi.

Pada akhirnya. Technologi merupakan perangkat pembantu. Jadi minimal keberadaannya menjadi “pempermudah” sebuah proses pekerjaan dalam kehidupan nyata, termasuk dalam penyelenggaraan pemerintah desa. Jika keberadaannya disinyalir hanya sebagai tuntutan birokrasi. Apalagi dianggap “nambah nambahi gawe”, yg kurang begitu masiv kemanfaatannya. Nampaknya bejibun aplikasi desa,yang mulai mengepung desa tersebut harus di evaluasi lagi keberadaannya. Jangan hanya menjadi beban, justru ini saatnya kerja cepat, tepat, responsif dan profesional berbasis digital.

Lalu pertanyaan lainnya yang muncul, kira kira yg kurang bermanfaat keberadaan aplikasi Atau ketidak pahaman SDM desa soal digitalisasi?, Wallahuallam

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s