Desa di era Disrupsi 4.0

Keberadaan sharing dana bagi dari APBN, menjadikan rekening kas Desa semakin Gendut, otonomi lokal yg dimiliki desa melalui uu no 6, menjadikan desa kerajaan kecil yang memiliki kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri, termasuk bagaimana mengelola keuangan yang rata-rata mulai ratusan hingga angka M dana yang diterima setiap tahunnya. Meski pemerintah jg menenkankan pada beberapa hal prasyarat kecukupan infastruktur dasar, menengah dan lanjut, kebutuhan masyarakat desa di bidang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi dan sosial. Semuanya dapat dibiayai melalui APBDesa yg penyunannya dan penentuan prioritasnya berbasis musyawarah.

Desa merupakan entitas terkecil struktural masyarakat, jumlahnya mencapai puluhan ribu lebih di Indonesia, di Bojonegoro sendiri total desa ada 419 desa, artinya, sebagian besar masyarakat kita mendiami dan tinggal di desa desa. Sehingga mewujudkan kehidupan masyarakat yg sejahtera, adil dan berkecukupan secara ekonomi dan sosial secara otomatis juga diarahkan pada pembangunan desa. Membangun desa berarti membangun kesejahteraan masyarakat.

Salah satu upaya menciptakan ksejahteraan masyaraakat adalah mengarakan pada kemandirian dibidang ekonomi, sosial, dan politik, masyarakat yang mandiri secara ekonomi dapat menciptakan stabilitas desa bahkan negara. Bagaimana memulainya?, Ya mulai mengarahkan penguasaan aset ekonomi mandiri bagi masyarakat pedesaan. Menjadikan masyarakat desa pemilik sekaligus pengelola aset ekonomi mereka sendiri, di desa sendiri. Melalui pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang ada di sekitar mereka secara mandiri berbasis potensi lokal. Tidak ada cara lain lagi, masyarakat pedesaan harus berdaya dan mandiri.

Di era disrupsi seperti ini, tata ruang, jarak dan waktu sudah bukan lagi batasan, bahkan batasan hampir sudah tiada, pertukaran informasi, distribusi barang dan jasa diperdagangkan lintas negara dan benua hampir setiap hari terjadi, ini pasar luas yang merupakan peluang yang harus ditangkap oleh siapa saja termasuk masyarakat pedesaan, dipersenjatai dengan kewenangan skala lokal, dilengkapi dengan sumber dana yang tidak main main jumlahnya, sudah saatnya pembangunan desa menjadi salah satu fokus utama, ketika berbicara 4.0, automatitasi, bigdata, dan lain lain, tanpa melibatkan desa sama saja seperti berbicara tanpa data, menyiapkan 4.0 sama berarti membangun desa, dan masyarakatnya. Sudah saatnya desa menjadi core core penyangga ekonomi nasional, melalui peningkatan kualitas dan kuantitas produk2 pedesaan,peningkatan jalur distribusi dan market share nya, peningkatan sumber daya manusia pedesaan dan peningkatan sosial capital serta budayanya.

Masyarakat Pedesaan hanya akan menjadi korban disrupsi apabila tidak ada penyiapan yang cukup, desa adalah pasar terbuka yang bebas menjadi market bagi arus global. Keberadaan sekian juta penduduk yang tinggal didesa adalah pangsa pasar atau sebaliknya menjadi pemilik pasar. Di era 4.0 pilihan ada pada masing-masing, tinggal pilih mana?

Capture
Bursa Inovasi Desa, Cluster II Kab Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s