Thengul dan Sego Buwuhan : Ajakan Kembali Bertani

Bojonegoro baru saja menggelar hajatan besar, Festival tari Thengul dan Sego buwuhan, dua-duanya baru saja mendapatkan penghargaan Muri, atas Peserta Tari Thengul Terbanyak dan Sego Buwuhan terbanyak. Tari Thengul dan Sego Buwuhan, merupakan Icon baru Bojonegoro, setidaknya dua dua nya menjadi trademark baru setelah Ledre dan kota minyak.

Festival Thengul dirangkai dalam acara bertajuk Thengul International Folklore Festival yang turut mengundang seniman empat negara lainnya, sebut saja, Thailand, Mexico, Polandia, dan Bulgaria. Rangkaian acaranya pun diawali dengan tarian Thengul dan nasi Buwohan, tepatnya seminggu lalu, masyarakat dari berbagai belahan Bojonegoro tumplek blek! menyaksikan parade Tari Thengul dengan peserta terbanyak sekaligus menikmati Kuliner baru Sego Buwuhan, setelahnya dirangkai dengan berbagai acara lagi yang tetap melibatkan Thengul dan Sego Buwuhan

Bukan kali pertama Bojonegoro menggelar event event Besar, beberapa hajatan skala nasional pernah diselenggarakan kabupaten penyumbang 30% kebutuhan minyak Nasional tersebut, Festival HAM, dan yang terbaru Thengul Internasional Folkrore Festival (TIFF). Tidak dalam dalam kerangka untuk mendukung atau menolak, tetap setiap setiap agenda pemerintah harus di apresiasi, meski jika diukur dalam indikator kebermanfaatan bagi hajat orang banyak juga belum tentu memberikan dampak yang relevan. Tapi iktiarnya untuk membangun kembali Budaya daerah, haruslah diapresiasi, tidak main main acara yang berlangsung sejak 14-18 Juli tersebut disinyalir menghabiskan anggaran lebih dari 1M.

Setiap kebijakan dalam penganggaran kegiatan atau pengembangan tentu telah melalui proses panjang musyawarah bersama dengan dewan legislasi daerah, pos pos penggaran untuk pembangunan juga telah ditentukan sesuai dengan skala prioritas termasuk juga terkait program-program pengembangan budaya, dan baiknya setiap program-program yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten harus lah memiliki road map rencana strategis jangka pendek, menengah dan panjang, serta mengukur ketercapaiannya, sehingga jelas, pendanaan akan terarah dan terukur pada program yang terus sinambung. Dan menghasilkan output-output yang jelas.

Menurut pemikiran awam semacam saya, produk Budaya, adalah hasil cipta, rasa, karsa dan karya oleh sekelompok masyarakat yang menjadi kebiasaan dan telah menetap dalam kurun waktu tertentu, akibatnya, budaya tersebut menjadi ke lokal an yang senantiasa ada dan telah mewabah. Jadi bukan, ujug-ujug ada dan ujug-ujug sepi. Seperti Tari Thengul dan Sego buwuhan semoga tidak ujug-ujug sepi setelahnya.

Festival merupakan upaya promosi untuk menaikkan daya tarik publik, pekerjaan sesungguhnya adalah bagaimana menyuburkan, meluaskan, dan melokalkan dua ikon tersebut agar senantiasa melekat menjadi jati diri dan melebur dalam kehidupan sehari-hari. Dua-dua nya adalah produk khas Bojonegoro, Apapun itu, kita sebagai rakyat patut berbangga, dan mengapresiasi, paling tidak dalam waktu kedepan Semacam sego buwohan ini akan menjadi menu baru saat jalan-jalan atau makan pagi, menyaingi sego pecel Madiun, atau malah sebaliknya, keberadaan Nasi Buwohan eksklusif dan hanya muncul dalam perayaan2 saja

Setelah pagelaran usai, tentu kita semua berharap kebanggaan itu tetap ada, terlalu pencilaan jika orang awam seperti saya komentar soal budaya, tapi sebagai masyarakat dan warga sipil Bojonegoro, kepedulian yang melahirkan kecintaan itu memberikan sebuah umpan berupa kritik dan saran merupakan sebuah kebolehan khann? minimal, pekerjaan membudidayakan Thengul dan Tari Buwohan harus dipikirkan.

Lembaga yang bergerak di bidang budaya daerah entah apa namanya, harus berpikir maju, supaya Thengul dan Sego Buwuhan bisa lebih eksis, sanggar-sanggar tari mulai bertebaran, anak-anak bangga menarikan tari daerahnya, kalo bisa Tari Thengul masuk menjadi salah satu Ekskul wajib konten lokal daerah, di sekolah-sekolah SD. Sementara sego Buwuhan, jadi menu rakyat, yang setiap sudut jalan ada, tentu upaya ini perlu diseriusi dengan dukungan kebijakan yang membudidayakan.

Tentunya, perolehan rekor muri untuk Tari Thengul dan Sego Buwuhan ini merupakan pemantik, mau tidak mau, suka tidak suka, Festival Sego Buwuhan sudah membikin Bojonegoro minimal dikenal masyarakat luas, jika setelah event berbudget mahal tersebut Sego Buwuhan dan Tengul justru makin sepi, mungkin acara2 sejenisnya harus dikaji lebih jauh. Jika melalui Festival Thengul dan Nasi Buwuhan beberapa waktu lalu Bojonegoro menjadi terkenal Sehari kemarin, pesan baik jangka panjangnya adalah, dengan semakin akan dikenalnya sego buwuhan, semakin giat kita untuk bertani, meminjam celotehan kawan saya,

“Jika Festival akan redup dalam hitungan hari, maka bertani akan menjadi pekerjaan panjangnya, dengan semakin dikenalnya Sego Buwuhan, pesan moril yang turut disampaikan secara tidak langsung, ajakan kembali untuk menanam sayur seperti Kluwih, Blonceng, Pepaya dan Jati, menjadi pekerjaan kita semua, dimasa mendatang”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s