Jalan Baru Membangun Ekonomi Desa

“Membangun Indonesia dari Pinggiran”!tagline yang dituangkan kedalam visi dan misi bapak Presiden kita, bukan tidak benar, meski belum sebenar-benarnya benar, yang paling mudah dilihat, pembangunan Tol, trans, di wilayah timur seperti trans Papua, Sumatera, jadi satu indikator bahwa “pinggiran” hari ini memang menjadi fokus utama pembangunan.

Bagian pinggir lainnya adalah Desa, entitas masyarakat terkecil dari bagian besar sebuah Negara, Desa juga menjadi prioritas Pembangunan dan sasaran untuk mempercepat pencapaian kesejahteraan, dikatakan, mana mungkin sebuah negara dianggap maju apa bila desa nya tidak maju. Membangun Negara, sudah pasti membangun Desa.

Libur Lebaran mulai usai, menarik ketika membaca sebuah artikel. ditulis, pendapatan sebuah desa di Jawa Tengah dalam dua hari liburan lebaran kemarin mencapai 130 juta, berkat pengelolaan wisata mandiri melalui kelembagaan ekonomi desa. Menarik memang, yang pertama, sekelas desa bisa memiliki potensi wisata yang sudah beromset ratusan juta dalam hitungan hari, yang kedua, jika satu desa saja sudah bisa berpenghasilan sedemikian nilainya, jika puluhan ribu desa lain di Indonesia begitu, wah wah bisa bisaa tidak ada orang miskin di Indonesia, tidak ada pengangguran, tidak ada ketimpangan ekonomil. Kita tahu, mayoritas penduduk miskin di negeri ini ada di desa-desa.

Membangun ekonomi pedesaan adalah kuncinya, membangun ekonomi lokal berbasis potensi desa, caranya, bisa dengan berbagai macam pilihan usaha dan juga sektor, seperti desa Ponggok, dengan omset puluhan bahkan ratusan juta dalam hitungan hari tersebut, memilih sektor wisata. Tidak harus memaksakan untuk sama di sektor wisata, bisa disesuaikan dengan karakter, potensi dan kebutuhan masyarakat, jadi kedepan. tidak perlu lagi perpindahan masyarakat desa ke kota dalam rangka pemenuhan Ekonomi, menjadi idola. Yang ada, masyarakat desa, anak-anak muda desa, berperan penuh, dan melalukan aktivitas pemenuhan ekonominya di desanya sendiri.

BUMDesa, adalah insfrastrukturnya. Dalam undang-undang desa no 6 tahun 2014, instrumen pembangunan desa telah dilengkapi dengan pembangunan ekonomi desa, yakni, melalui BUMDesa. Bumdesa, adalah lembaga Ekonomi desa yang sebagian atau seluruh modalnya bersumber dari pemerintah desa, yang dikelola sepenuh-penuhnya untuk kesejahteraan masyarakat desa. Keberadaan BUMDesa sebagai lembaga Ekonomi Desa, diharapkan mampu sebagai lokomotif penggerak roda roda perekonomian desa, dengan menggerakkan potensi-potensi yang dimiliki oleh masyarakat desa.

Bumdesa bukan hal baru, pemerintah desa sudah bisa membentuk BUMDesa dengan landasan UU 32 Tahun 2004, namun pada perkembangnnya, BUMDesa pada waktu itu belum mampu melakukan terobosan-terobosan baru di sektor ekonomi di desa, pada praktiknya di lapangan, pemerintah desa membentuk BUMDesa sebatas anjuran dan perintah, bukan karena kebutuhan. Sehingga keberadaannya belum sepenuhnya disadari sebagai kendaraan yang mampu merubah nasib desa, menambah pundi pundi PAD, belum sejauh itu.

Kini, desa-desa mulai bertransformasi menjadi kekuatan Ekonomi baru dengan lembaga desa bernama BUMDesa, dibekali instrumen UU Nomor 6 tahun 2014, beserta peraturan operasional dibawahnya, BUMDesa juga telah dipersenjatai dengan amunisi yang bisa di peroleh dari pemisahan Dana Desa, dana transfer yang diperoleh langsung dari rekening APBN. Ada banyak pilihan usaha yang bisa dijalankan melalui BUMDesa, pemilihan usaha-usaha tersebut tentu dengan pertimbangan banyak aspek yang ada di desa. Jenis usaha BUMDesa meliputi, usaha sosial, yakni usaha yang memberikan service atau pelayanan umum, seperti penyediaan air bersih, listrik desa dll, Usaha penyewaan, usaha brokering, yakni sebagai penyalur dan pemasar berbagai produk desa, usaha produksi, usaha bisnis keuangan, dan usaha holding. Masing2 tinggal menyesuaikan potensi dan kebutuhan, yang bisa disepakati dalam musyawarah.

Jika kebijakan sudah, amunisi sudah, kini tinggal pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Rakyat ambil kemudi mengarahkan pembangunan Ekonomi di Wilayahnya. Mau seperti Ponggok, atau tetap menjadi desa yang begitu begitu saja?, Pemerintah Desa, BPD dan tokoh tokoh masyarakat dapat mulai menyiapkan SDM terbaik untuk memulai membangun BUMDesa nya, putra putri terbaik desa lah yang akan menjadi CEO BUMDesa.

Sudah saatnya prioritas pembangunan di desa diarahkan untuk investasi di bidang Ekonomi, dan BUMDesa menjadi penggeraknya. Sudah saatnya unit unit Bumdesa menjadi “core” sektor-sektor rill, industri penyangga ekonomi nasional. Sudah wayahnya, Bukalapak, Tokopedia, dan marketplace sejenis, dipenuhi dengan berbagai produk-produk unggulan desa. Wis Wayahee!!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s