Selamat Berbuka

Menulis itu seperti olahraga bagi otak. Menyusun kata per kata, kalimat demi kalimat sampai pada susunan paragraf. Menyusun awalan, closing dengan bahasa yang terstruktur, sistematis, runut, supaya dapat dipahami dengan mudah oleh para pembacanya,

namun anehnya menulis ini jadi susyahh banget bagi yang jarang menulis, jangankan kok sampai ber para para grap, lha wong sak kalimat bingung jur lanjutane pie, yah begitulah, gunanya media sosial sebenarnya memudahkan kita belajar menulis, status misalnya, curcol misalnya, ini senam bagi otak yang bisa dilakukan dengan mudah, ya khaann. Nulis status gitu loh

Siang tadi, 5 menit setelah dari terminal Rajekwesi menjemput kawan dari kediri yang datang naik bus, kita bersama sama (saya naik motor, dia naik Grab. Maklum ga bawa Helm) hendak mencari tempat untuk sekedar ngobrol. Sebut saja kawan saya ini D namanya, perkenalan kita terjadi tahun 2017 silam di acara Festival yang diadakan oleh pemerintah kabupaten, pada waktu itu dia mewakili komunitasnya dari kediri yang mendapatkan undangan di acara tersebut, Setelahnya kita cukup aktif kadangkolo sih untuk sekedar say hay dan discus di wa soal buku, pandangan de el el. Nah siang tadi kedatangannya yang kedua di Bojonegoro,

Akhirnya kita putuskan, ngrobrol dan pesan kopi di salah satu coffe shop andalan dan paporit saya, maklum perempuan, suka gak berpuasa, mau puasa nanti tambah dosa, jadi serba repot hhh. Pesan kopi, eh ternyata coffe shop yang biasanya closed, tapi di depan kafe ada tulisan “buka” dipasang. Yah sudah terkadung masuk, akhirnya kita mengopi di resto yang kebetulan satu area dengan coffe shop tersebut. Kami masuk, pergi ke kasir, mbak-mbak yang gak mau disebutkan namanya, “Mau reservasi mbak?”

“Mau ngopi dan makan mbak, balas saya

Dengan muka agak kaget dan shock, balik tanya

Makan disini atau dibawa pulang?

“Makan disini aja mbak, kopi 2, nasi goreng rempah satuh, pake telur”

Mbak Mbak masih dengan wajah heran dan gumun sitik,

Soal apa yang dipikirke mbak e, jelas saya ga tahu, tapi lihat gumunnya dan pandangan anehnya, mungkin yo, dikira, mbak e iki poso poso kok sek pancet ngopi, hhh. Tapi laen kali jika melayani pembeli jangan dengan wajah Gawok gitu ah mbak, saya jadi meras berdosa hhh

Puasa itu adalah rukun Islam ketiga, perintahnya turut setelah kita melaksanakan kewajiban bersyahadat sebagai umat islam, kemudian shalat lalu berpuasa, berpuasa adalah kewajiban bagi yang memenuhi rukunnya, hakikat berpuasa adalah menahan hawa nafsu, emosi, lapar dan dahaga selama bulan Ramadhan sebulan penuh. Jadi bukan cuma lapar dan haus aja ya ges, ingat momen puasa adalah timing yang pas untuk kembali menguatkan pondasi kematangan jiwa, secara spiritual. Jadi jika ada yang berpuasa dan masih marah-marah, masih suka menjelek jelekkan orang, masih suka mengumpat, hemm silahkan ditarfsirkan sendiri sesuai dalil yang ges. Kok puasa tapi minta dihormati supaya warung2 makanan tutup, kedai2 ditutup, orang berpuasa enggak bolehlah se egois itu. Puasa ibadah, dijalani dengan ihklas, dinikmati sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri dengan sang khaliq, maaf gabisa banyak banyak takut dikira usstadzah dadakan, hhh

Kopi datang, ngobrol jalan, dari mulai pekerjaan, Negara, rakyat kecil, sampai ayam Geprek, tuntas kita bahas. Akhirnya, selamat berbuka bagi yang menjalankan ibadah puasa, dan selamat berkerja bagi pemenang kehidupan

“Kenikmatan Berbuka hanya dirasakan bagi yang berpuasa, kemenangan hidup cuma dipetik oleh para pejuang yang berkerja”

Iwede

With Love

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s