Orang-orang Pinggiran

Zaman yang terus berganti, diikuti dengan perubahan budaya, sosial, ekonomi bahkan politik, jika dirunut kebelakang lagi, zaman zaman tersebut telah ditandai dengan momentum yang menjadinya terjadi perubahan baru. Hingga kesini kata revolusi industri pun sudah menginjak ke titik 4.0, zaman yang ditengarai dengan kemudahan, instan, cepat saji, dan sebutan-sebutan lain. Apa mesin utamanya menuju perubahan perubahan tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah otak manusia

Kereta pendorong perubahan adalah pengembangan daya cipta,rasa , dan karsa manusia melalui inovasi-inovasi dan kreasi yang mengalami pengembangan setiap dekadenya. Diikuti dengan kebutuhan dan perubahan gaya sosial ekonomi dan cara berkehidupan yang mengikuti pula tentunya.

Semakin kesini pola hidup anak anak cucu nabi adam ini semakin kompleks saja, kebutuhan yang dulunya cuma ada tiga primer, sekunder dan tersier, kini jadi bertambah mikro tersier, makro tersier, dan yang paling primer juga bergeser dari Nasi padang jadi paket data, mau tidak mau itulah sumbangan kebermajuan zaman. Di era ini juga menjadi panggung unjuk gigi, era persaingan dan kompetisi terbuka lebar bagi siapa saja, yang akan menghasilkan dan menyumbangkan apa bagi kemaslahatan umat.

Paradoksnya, segala kemudahan ini belum mampu ditangkap dengan baik oleh pejuang pejuang milenial kita, cuma ada beberapa sejenis Mark Zukenberg di negeri Ini, sebut saja Zaki bukalapak, Nadiem Makariem Gojek, dan beberapa lainnya, yang masih bisa diukur pake jari kaki. Memang berat sih bener, mau jadi kaya Mark kamu harus bener-bener mengerahkan segala pikiran, tenaga dan kerja keras yang luar biasa, lebih keras dari pada sekedar ikut tes cpns. Suerrrr bisa ditanykan nadiem mungkin, di fase fase pembangunan Gojek, berapa jam Nadiem tidur setiap malamnya? Tapi ya begitulah, manusia wajar juga jika menginginkan, yang lebih mudah, lebih enak, lebih gurih, namanya juga manusia.ya kann dear!

Tapi di Era ini pula, manusia manusia jaman ini bebas menentukan nasibnya sendiri. Darah, turunan, leluhur, bahkan nenek moyang yg bukan pelaut pun bisa jadi pelaut, ini eranya memajukan kebudayaan baru yang mengutamakan sederet kemampuan dan skill masing masing, intelektualitas dan serangkaian softskill lain menjadi penghubung menuju deretan cita cita baru diluar polisi, dokter, guru, perawat dan cita cita mainstream lain. Pertanyaan kemudian adalah, sudahkah kita menyiapkan itu?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s