Sudah Fokus?

Aku Cah JonegoroJam di tembok sudah menunjuk pukul enam petang lewat lima puluh menit, melewati lima dan akan menuju tujuh sepuluh menit lagi. Gelap dan malam tak mampu membuatku beranjak dari kemalasan juga. Inilah implikasi dari keberadaan kebermajuan zaman beserta perangkat yang menyertai, piranti elektrik mempola menjadi budaya baru, menggeser budaya lama soal bangun tidur kuterus mandi yang kini jadi bangun tidur kuterus buka hape, dan tulisan ini buktinya

Lonceng tahun politik 2018 sudah dibunyikan, pesta demokrasi dikota ini secara resmi dimulai, sepertinya memang diamini bahwa 2018 memang disebut tahun politik dan tidak ada yang protes soal ungkapan tersebut, namun  perlu ada sedikit pelurusan bahwa pada dasarnya setiap tahun adalah tahun politik, setiap tahunnya berbagai kebijakan yang mengatur hajat hidup setiap warga negara dalam berbagai sektor dan bidang tidak akan terlaksana tanpa diputuskan melalui keputusan politik, kehidupan yang adil, sejahtera demokratis dan tata kelola yang baik hanya bisa diwujudkan dengan keputusan politik yang dibuat bersama sama oleh Presiden dan DPR dalam bentuk perundang undangan, maupun yang diputuskan sendiri oleh eksekutif yang telah memperoleh mandat rakyat melalui pemilihan umum. Namun di tahu 2018 dan 2019 nampaknya akan menjadi tahun politik yang berbeda, dimana pada tahun 2018 ini akan dilaksanakan pemilihan kepala daerah serentak di 171 daerah di Indonesia yang merupakan gelombang ketiga setelah pilkada serentak sebelumnya dilakukan pada  2015 dan 2017. Sementara pada tahu 2019 menjadi momentum pertama bagi bangsa Indonesia untuk memilih Presiden dan Wakilnya sekaligus memilih perangkat legislatif mulai DPRD kabupaten, Provinsi dan DPR serta DPD.

Bagaimana Bojonegoro? kota dengan APBD mencapai 3T turut ikut serta pula dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Finally, ada empat nama yang secara resmi mendaftar sebagai bacabub dan bacawabub yang akan mengikuti kontestasi pemilihan kepala daerah di kota Ledre. Ada pasangan Mahfudhoh Suyoto dan Kuswiyanto, pasangan Ana Muawanah dan Budi Irawanto, pasangan Soehadi Mulyono dan Mitroatin dan pasangan Basuki dan Puji Dewanto. Nama nama diatas yang bakalan memenuhi sudut sudut jalanan dengan baliho, poster, dan banner, meramaikan radio dengan jingle jingle pemenangan dan tidak satu lagi linimasa yang juga akan ikut penuh dengan cuitan para pendukung dan simpatisan keempat calon tersebut.

Meskipun Bojonegoro tidak seperti jakarta atau kota kota besar lainnya, namun segala potensi dan antisipasi perlu untuk menjadi penyikapan dalam pesta demokrasi kali ini, bahwa kedewasaan masyarakat kita dalam berfikir diharapkan tidak lantas menghanyutkan kepada euforia politik yang berlebihan, yang bisa menimbulkan gap gap antar pendukung paska pemilu nantinya. Yang menjadi penting adalah siapapun yang menang nantinya harus didukung dan kemudian bersama sama dikawal untuk kinerjanya dan janji janji politiknya. Sehingga diharapkan pelaksanaan kontestasi kepala daerah ini berjalan dengan bebas, demokratis, aman, tertib, dan sportif

Lalu memilih yang bagaimana? Yang masih menjadi tantangan besar bagi demokrasi di negeri ini adalah penyikapan atas perangkat perangkat politik yang belum berkerja optimal, belum melembaganya mesin mesin partai yang memiliki otoritas dalam mentransmisikan pendidikan pendidikan politik kepada masyarakat, sehingga massa masih terbelenggu dalam arus mobilisasi yang belum sepenuhnya berdiri sendiri pada pilihan politiknya. Inilah celah yang bisa dimanfaatkan untuk mendikte dan mengorganisir massa yang seharunya memilih pemimpin berbasis kinerja berubah menjadi pemilih berdasarkan pilihan identitas asal berdasarkan asal,agama ras dll dan pilihan lain dengan persepsi bias. Seyogyanya pemilihan umum dan pilkada adalah momentum merayakat kedaulatan rakyat, publik dapat memanfaatkan kesempatan seluas luasnya untuk memilih calon pemimpin yang dianggap terbaik dari REKAM JEJAK, VISI dan KEPEMIMPINAN, KAPABILITAS, MORALITAS dan INTEGRITASNYA. Hal hal inilah yang seharusnya menjadi ukuran bagi publik untuk memilih calon pemimpin kedepannya.

Sebagai anak muda, tentunya hal baik yang akan dilakukan adalah menggunakan hak pilih dengan sebaik baiknya, memilih pemimpin dengan kualitas dan dan kapabilitasnya, setelah memilih bukan berarti hidup anak muda akan serta merta ikut berubah, berubah baik dan sukses itu hanya omongan orang yang sedang bermimpi. So kembali pulang pada tujuan, berkerja dan berkarya, fokus dan konsisten. Anak muda adalah simbol kebaruan ide ide dan pemimpin bagi ide idenya.

oke lets go mandi….

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s