Ada apa dengan Jogja?

Pemilihan kata sebuah judul dalam sebuah tulisan memang menjadi  satu hal yang dipentingkan, bagaimana judul ini dapat memantik pembaca untuk kemudian memunculkan ghirohya untuk ingin membaca, kali ini saya agak kebingungan apa judul yang tepat bagi tulisan ini. Kerena mengarahkan tulisannya kemana saya juga bingung yang ditau harus tetap menulis saja. Sebenarnya kegiatan tulis menulis harus menjadi paksaan bagi setiap pribadi, bagaimana menulis adalah sebuah jeda antara praktek dan teori, menjadi catatan catatan keberubahannya. Makanya tetap menulis adalah pilihan wajib, ijinkan saya mengutip tulisan pram ini “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”,dan bagiku menulis adalah pilihan jalan untuk menjadi bebas, titik.

Seminggu yang lalu tepatnya baru saja Jogjakarta dikunjungi, kota kenangan banyak orang, kota yang dibikin lagu juga sama Kla Project, yang bikin Jogja selalu istimewa dimata mereka, mungkin dimata kita juga. Ucapan tengs pertama tentu untuk South East Asian Freedom of Expression (Safenet) yang sudah mengundang ke Jogja serta memfasilitasi segala kebutuhan beserta ilmu dan kawan kawannya. Makasar, Papua, Jakarta, Bogor, Palembang and many more, theyre so inspiring! Tentu ini yang kemudian membikin luas lagi pandangan kita bukan soal berapa nilai beserta nominalnya, ini adalah cerita baru, soal Birmighamnya nenden, soal LGBT, isu isu Digital dan bagaimana berkomunitas yang lebih luas

Dari Grand Tjokro dilalui jalanan Jogja dengan Gojek lengkap helm dan jaket hijaunya, kopi Joz dengan arangnya, Alun alun sayang kelewat atas upacara kesatennya, tidak lupa Malioboro, ini cerita yang mungkin sudah tidak asing lagi, bahwa ke Jogja belum lazim jika belum berfoto  di plang tulisan Jalan Malioboro, dan ini semakin menguatkan bahwa kekuatan daya jual plang tulisan jalan Malioboro begitu tinggi, para remaja dan paru baya itu rela berjubel untuk sekedar berfoto termasuk kita kita juga hhhh, kekuatan brand dari Malioboro yang membuat kebanggaan untuk mengupload di media sosial masing masing, dan begitulah semua dan akan linier dengan kekuatan brand Jl Malioboro akan semakin melejit. Ini cerita seputar dua hari yang dilalui di Jogja dan dengan tidak lupa ditutup dengan belanja buku di komplek Taman Pintar. Sayang sih belum sempat ke Puthuk Setumbunya Ada apa dengan Cinta, yang ngehits waktu itu

Finally, perjalanan pulang dilalui dengan bis patas Jogja Ngawi yang berpulang dengan kenangan tak enak, karena jaket tertinggal di bis. Lanjut dengan anakan bis dari Ngawi ke Bojonegoro yang tiba tiba ngetem tanpa sebab, dan terpaksa pindah bis karena mogok, lagi lagi ini yang bikin brand naik bis ga naik naik, gak bikin keren dan bangga, okelah see you Jogja, we’ill miss everything!

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s