Lofe is lost

Semakin kesini semakin puka aku semacam dikekang, tak diberi ampun pada penyiksaan yang kunamai pembodohan telak, kesadaran dan rasionalitas semacam tersandera pada arah dan tujuan yang tidak pasti akan sampai kemana arahnya, kalau boleh aku memaki diriku sendiri tentang ketololan ini, bahwa benar cengkeramannya begitu kuat memenuhi saraf saraf sadarku dan melemahkan setiap logika yang berjalan, dan kemenyesalanku yang kemudian mengutukiku, dan membuatku begitu limbung karena terperancah darinya, yang kemudian tak kumengerti bagaimana bisa ini jadi cerita

Jane, dara yang membuatku begitu lemah dan lumpuh dalam setiap pemikirian, boleh jadi kalkulus, statistika, fisika atom, akulah pemenangnya di setiap pelajaran sekolah, bahkan guru guru pun mengimani itu dengan menjadikanku asisten kelas, bu Merina guru sastra pun sepakat bahwa aku adalah generasi pilihan untuk perubahan peradaban kedepan beberapa kali sempat ku kirimkan pendar buah pikirku sebagi kritik sosial melalu larik larik berbahasa sastra kesebuah redaksi harian Mata Angin, dan sekolah kembali membanggaiku

Tapi soal perkara jane aku jadi sebegitu tolol, bagaimana gadis berperawakan tidak terlalu tinggi itu dengan senyum manis sedikit namun begitu menarik dimataku, begitu menarik bagai aku kutub selatan dan dia sumbunya, menarik narik diriku untuk selalu dekat dengannya, mengharapkan kuputar waktu agar selama mungkin saat kami beradu argumen soal cerita Tom Sawyer, dirinya adalah kekultusan yang dilahirkan dari ibu dan bapak yang barangkali setajam clurit madura kecerdasannya, berbeda dengan perempuan kebanyakan, yang tak gila buduran bedak dan gincu, dia tetap yang terindah bagi pandangan ini, tak perlu tampak fisik bagi dalam yang tak indah, justru dalaman yang indah akan tembus pada mata mata yang juga mampu menangkap keindahannya, dan mungkin mataku sudah tertikam pula

Pukul 3 sore di pekarangan Mbak Pinem, pemilik perpustakaan beberapa baris buku yang tergabung dalam forum apalah itu, tempat kami biasa melahap buku buku bacaan dan sesekali kucuri2 pandangannya dengan tatapanku yang membikin dada berdegub kencang mau ambrol itu saat dua bola mata ini saling berpelukan melalui pandangan. Seperti waktu ini aku sengaja menunggunya, barangkali dia akan kutemui disini, sudah tiga hari pesan pesan whatsappku tak diindahkan dan tak ada kabar pula, kau tau bagaimana rasanya? Lorong lorong batinku menjadi sunyi seketika, tak ada energi positif yang melucuti kemalasanku, yang ada kepalaku timbul berbagai tanya dengan berbagai jawaban yang kujawab sendiri

Dan, kau disini sudah? Iya jawabku, aku menunggumu, apa yang hendak kau lakukan dengan tiada berkabar padaku?

Kenapa aku? Bukannya kau yg lebih dulu, tidakkah kau ingat bahwa apa yang kau sebut dengan barang mewah bernama cinta itu adalah begai pendulum yang terayun dan terpental lagi pada waktunya kembali pada titik keseimbangan, itu adalah hormon yang akan tiba2 berfase pada waktunya dan hilang pada waktunya pula? Dan kenapa kali ini kamu begitu terhuyung pada rasa yang masanya akan segera habis?

Jawabannya begitu menyentak kewarasanku, tiba tiba aku menjadi mengecil dihadapannya, apa salahku pikirku, jane memakiku dengan tajam, kau tahu jane bahwa teoriku soal cinta itu memang bagaimana mencoba merasionalkan saja apa yang kita alami bersama, bukankah kamu juga merasakannya? Lalu kenapa picikmu berfikir aku akan kehabisan kebahagiaan itu? Tentu tidak,

Baiklah Dani, jika tidak habis mungkin egomu lah yang kemudian memasung dan melilit setiap apa yang dikatakan hati, memberangus hingga habis, dan kini biarkan aku memilihkan tempat terbaik baginya, yang akan kusimpan dengan baik pula tanpa sempat aku mengurangi kadarnya, dan sudah waktunya kita membunuh setiap sunyi pada kita sendiri, meleyapkan siapa dan entah bagaimana caramu mengusir senyum yang lama singgah didalam kepala, yang tak tentu menjadi milik pada akhirnya. Sungguh jane tak kupahami jangan biarakn aku sedemikian bodoh…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s