Safii Sial, Wan

Malam yang mulai menipis ditemani deretan huruf huruf berbaris rapi, dari jendela kaca pandanganpun terlempar pada temaramnya bulan yang belum juga lahir. Kira kira sudah beranjak satu bulanan ini jemari dan pikiran terpapar pada radiasi pernik pernik soal pemenuhan dompet dan perut yang semakin membakar habis rasa “pengen nules” , ini bukan alibi kenapa apa yang bersarang di otak enggak bisa keluar untuk jadi pemantik yang membuat kesemuanya pengen membaca, rasanya tiba tiba pikiran juga kenyang saja dengan ini itu ini itu yang akhirnya juga membuat ngantuk menggilas ide dan penghabisan waktu

Di beberapa soal safii kembali mengeluhkan peniadaan soal keberadaannya yang tidak diakui secara de facto maupun de jure, tidak dapat peran lah, tidak dianggap lah, tidak ada eksistensi keberdaannya yang mampu membuat sekelumit orang orang memandang atas dasar Who am i? bahkan soal whatsapp  dia kalah telak dengan dengan tetangga sebelah yang lebih moncer di beberapa bagian, sungguh sial si safii, secara fisik dan hitungan matematis dia unggul, entah karena menurut sejarah dia adalah pribadi yang egoistis dan terlalu mengAku kan dirinya terkadang yang tidak baik juga, kini si safii seringkali menjadi pribadi yang jealousistik dan lebih giat lagi menunjukkan ke Akuannya, tapi semakin sedikit yang melirik

Setiap individu memiliki personal icon yang menjadi ciri atau gambar soal diri masing masing, bagaimana menggambar ke Akuan masing masing berdasarkan habbit dan karakter yang telah di semai sejak dulu, tapi terlepas itu abraham maslow pernah berkata bahwa setiap pribadi memiliki kebutuhan berdasarkan hierarki tingkat kebutuhan salah satunya adalah kebutuhan akan penghargaan, yang masing masing person memiliki kekhasan yang menjadi pembeda dengan yang lain dan secara mutlak memiliki keinginan untuk dihargai, diakui atas ke Dia annya, dan itu fakta, sehingga menjadi aku yang sebenar benarnya aku, iam as Special One yang tidak memerlukan pembandingan lain, dengan apapun dan dalam hal apapun, sampai soal romansa aku dan kamu

Fajar terus memburui sementara mata tak boleh menutup, sedini hari menyambut embun bersama rinai bergelantungan di dahan dahan, selamat menyambut pagi!

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s