Memeluk Senja


Kuakiri malam ini dengan beradu punggung dengan bantal, sambil mendengar suara kipas berputar putar, gemulai anginnya hendak menidurkanku dengan lembut, memecah malam dengan segudang tanda tanya, tiba tiba pikirku terlempar dijalanan,
lalu memungut berupa rupa rasa yang tak hendak di curi,

kiranya dia semacam tamu yang datang tanpa undangan Segala hal yang kupercaya dengan apa yang mampu menyapulenyapkan segala keresahan dan menerbitkan penghambaan pada apa yang tak mampu dilukiskan, inilah mistik yang ada dan terus dipercaya, membuncahkan berupa rupa rupa warna hati, memekarkan sel sel hidup yang telah lama suri, ini pemantik ajaib, mengharukan, membesitkan senyum dan rona merekah, ini yang selalu kukagumi dengan segala kemurniannya, yang ada dan tak diadakan, bahwa zatnya masih menjadi kuasa diatas segalanya,

Disepanjang jalan diantara dekapan angin malam yang dingin, dia bercerita tentangnya malam itu, cinta akan diam diam datang tanpa membisikimu terlebih dahulu, sudahlah coba saja dulu bicara barangkali bisa kau bangun perasan itu, tatapannya mulai menghardikku, tidakkah kau tau cinta tidak bisa direncanakan?, kau terlalu sombong soal ini, ya karena aku ingin apa yang menyentuh hati ini adalah rasa yang benar benar ajaib,

Ini adalah cobaan sekaligus anugerah yang menjadi hikayat cerita tentang apa yang tidak mampu diuraikan dan di buktikan secara ilmiah, dan baru sempat kusadari bahwa aku telah terjebak dalam perangkap hati, yang meluruh bersama sama rasa itu, dan benar aku kembali ditaklukan kali ini,

Semakin jauh kesini semakin aku menyadari bahwa inilah esensi yang berada, cinta dan segala kemegahannya mengkayakan labirin batin yang sepi dan membuatnya menyala nyala. Hingga senja datang bersama sore yang tidak bisa ditolak mata, burung burung pun mendekor langit menambah indahnya senja sore itu, benar benar semena mena yang membuat kedipku mendadak berhenti, aku menikmatinya, sungguh merindukannya, tapi Tuhan tidakkah ini sebuah caramu mengajariku menjadi perela, sungguh aku rela tetap mengagumi senjamu tanpa bisa memeluknya

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s