Di 80 Km/Jam

Aku cah jonegoro

Inilah saat yang selalu ditunggu tunggu,menunaikan waktu dengan sedikit kelongaran, menilap rentetan pernik runitinas, melepaskan rindu pada kemerdekaan. Setiap manusia terlahir dengan kutukan untuk menjadi bebas, dengan sadar atau sengajara menjauh dari kesadaran bebas adalah hal paling mahal dan sudah tentu setiap manusia akan mengarahkan tujuannya pada kebebasan, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat sampai hal krusial soal nasi dan kolor

Siang yang selalu berkoloni dengan panas, sambil cleguk cleguk ludah sendiri ya karena hari ini puasa yang bukan hanya bulannya saja. Tepatnya dua tahun sudah tidak mengegas dan mengerem disepanjang lintasan esbeye beje en, dengan masih sombong arena beradu berbagi kebutuhan dan tujuan itu masih kaya dengan hisapan perusak sistem pernafasan. Dua jam sudah dari jantung kota minyak hingga masuk kota pemberani trah bung tomo, agak ngeri juga dibayangkan dua jam antara surga dan neraka sahut riani, terkadang hal semacam ini dirindui ternyata,

Jika tiga tahunan lalu masih berdarah darah ketika berada disini, gunungan keinginan dan harapan menjadi pendorong untuk sedari mudahnya berkendara kesini meski anti surat kemudi, dan hari ini pun sama, aku tetap bersiteguh. Soal kesejahteraan kali itu mendominasi lagi, alih alih jaminan hidup aman dengan jatah bulanan yang sudah memasti, bermodal otak yang tak seberapa isinya ini kugantungkan dengan kuat keingiananku, aku percaya setiap apa akan menyatu dengan usahanya dan pasti menuju

Namun nyatanya tidak, kusadarkan alam egoisku untuk tetap memajang wajah tegak berhapan dengan jalanan dari beribu kelalahan melawan garis edar sang pengusa, yang kadang sering dihujat karena terlalu tamak memaksakan keinginannya sendiri, namun aku memilih tetap menghamba. Bisikannya menamparku keras keras bahwa soal rejeki, pasangan dan batas hidup sudah tersetting dengan baik, tidak bisa dibuat semaumu, tidak ada toleransi benarkah begitu? yang kadang membuat rancu antara usaha dan nasib, tapi ya sudahlah setiap hikmahnya yang selalu akan dibawa pulang

Sekitar tiga jam saja aku disini, dan riani membangunkanku saat terlelap sejenak dimasjid besar seberang toko kue aku pun terhenyak dan terbangun dari mimpi atas kekalahan, tepatnya ketidakdesuaian dengan apa dimauinya, toh aku ini orang asing yang akan selalu rindu dengan pergulatan rasa penasaran, dan godaan tantangan tantangan

Semakin kupercepat lajuku, beradu dengan senja yang mulai manja rianni menepuk nepuk pundakku, alon lek aku ape kecer, kusahuti koe pengen buko neng ratan? Cekelan,

Sudah waktunya kita pulang teman, tidak soal dengan materi dan kekuasaan, percayalah semesta akan luluh juga melihat kengeyelan dan kebebalan usaha tekun kita mungkin itu yang dimauinya, ayo kita berdikari riani

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s