Si Penjahit

Aku rosa aku adalah penjahit, bukan tanpa alasan aku memilih menjahit karena memang aku hanya perempuan desa yang sadar tidak berilmu tinggi, dan memang tempat berkarya terbaik bagi perempuan adalah dirumah, Rosa, perempuan paru baya penjahit favorit di seantero desa, setiap harinya tidak terlewatkan di depan mesin jahit buterfly kuno tahun 90 an, menghabiskan berjam jam untuk duduk dimeja kerjanya bersama kiloan kain kain, bahkan sebulan sebelum hari raya jahitannya meluber luber, hingga menolak pesanan, singkat cerita rosa dan kisah menjahitnya yang tidak akan diceritakan secara utuh disini

Sore, spada, ada orang? Suara laki – laki yang baru saja memasuki rumah bergaya kontemporer di Bandung, tak ada yang menyahut panggilan laki laki itu karena suaranya masih kalah padat dengan suara hentakan mesin jahit dari salah satu ruangan didalam rumah, Halo sapanya pada seorang perempuan yang sedang duduk menghadap mesin jahit, si perempuan lalu menoleh pada suara yang baru saja memanggil, si laki laki tertegun dan tak bergeming memandang rupa perempuan berambut ikal dan dikuncir itu, si habibi terkesima melihat ainun untuk pertama kalinya semenjak lulus SMA dulu,

ini adalah salah satu cuplikan scene film favorit Habibi dan Ainun yang begitu membuat banyak orang iri dengan kisah cintanya, awalnya akupun sempat iri bahwa begitu beruntungnya orang yang hanya mencintai dan dicintai oleh satu orang, namun akhirnya iriku hilang karena ternyata habibi tidak hanya mencintai Ainun namun pernah ada juga Ilona, cintanya yang  lain, anyway back to menjahit ya, dalam scene pertemuan pertama antara Habibi dan Ainun, digambarkan juga bahwa Ainun adalah sosok perempuan yang juga suka menjahit,

Bisa jadi begitu tertegunnya Habibi melihat ainun kala itu karena paras Ainun yang anggun dan sederhana dan ditambah dengan menjahit pula sepertinya kok begitu perempuan bingit ya, perempuan selalu distempel dengan beberapa pekerjaan khas perempuan seperti menjahit, memasak, dsb untuk membatasi diri dengan keperempuanannya, bisa dibilang pantasnya, atau wayahe ,kudune begitu, sehingga jika kemudian perempuan melakukan pekerjaan pekerjaan lain diluar pekerjaan mainstream dinilai keluar dari batas kewajaran sebagai perempuan, tidak asyik kan?

Sementara Bavoir beranggapan bahwa kontruksi yang menjadikan perempuan dengan label semacam itu karena telah terbentuk sejak dini bahwa perempuan telah diasosiakan untuk menerima, menunggu, dan bergantung, untuk urusan pekerjaan pun masih inferior dibanding laki laki, jadi memang perempuan yang katanya cocoknya njahit, masak itu memang sudah disetel dari dulu, peradaban yang turut menyumbang pembentukannya,

lalu kira kira gimana perempuan yang tidak suka menjahit dan lebih memilih mancing atau main game? Oke distop kita ngopi dulu

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s