Ber – Ka Er El

Berpuluh puluh biji kaki rapi berbaris dari depan kebelakang dan juga menyamping yang kira kira ada 4 lajur, tua, muda, paru baya, laki perempuan, sibuk menukar mata uang baru di zaman generasi x, y, z untuk membayar kereta yang disinyalir bisa mengurai macet, memperpendek jarak dan waktu ditengah ruwet dan macetnya sepanjang Jabodetabek dan konon nyaman dan bersih juga. Kira kira tidak sampai 10 menit barisanku sudah sampai urutan kedua dari depan, cekatan sekali kupikir satu orang pelayanan dibalik kaca itu. Akhirnya sudah dalam genggaman dua kartu mirip atm ber chip untuk menaiki salah satu moda transportasi khas ibu kota, siap melaju!
Modern, kekinian cepat dan hemat di ongkos menjadi kesan pertama yang akan terbaca pada moda transportasi satu ini, yang menaikinya pun berupa rupa namun lebih banyak gaya parlente ala eksekutif muda, kamu ga akan turun gengsi, atau jadi carut marut seperti saat naik metromini atau bajai. Menyusuri malam melewati Kranji, Klender, Jatinegara, Manggarai, Cikini, Gondangdia, Juanda dan tiba ditujuan akhir Jayakarta. Bukan pertama kalinya sih aku menaikinya, namun malam itu ber KRL jadi kelihatan asyik setelah lama tidak berea reo

Commuter Line, simbol modernitas kehidupan kaum urban, yang tetap murah namun tidak murahan yang terpenting adalah juga ber etika, satu contoh misalnya, dinding dinding board desk terpampang jelas pengutamaan bagi penumpang lanjut usia, ibu hamil, ibu membawa anak, dan penyandang disabilitas, menariknya adalah benar benar apa yang ditulis di dinding itu menjadi pemantik yang luar biasa untuk dilakukan, mas mas dengan sadar diri memberikan kursinya pada ibu2 yang agak tua malam itu, selang beberapa menit ada lagi ibu membawa anak yang dipersilahkan duduk oleh bapak bapak, ini adalah pelajaran ber etika baik yang diajarkan oleh KRL, bahkan semua instruksi sudah dilakukan otomatis oleh mesin, mau turun, mau naik, sampai mana, sudah tertib berjalan sendiri tanpa kernek, kondektur, atau bayar recehan hehe. Tentu setiap instruksi dilakukan berdasarkan pemahaman dan kesadaran yang tinggi untuk mau melakukan, budaya budaya baik semacam itu perlu dilakukan tentunya akan lebih mengena jika membudidayakannya dengan cara yang berkemajuan dan kali ini teknologi mengajari itu

hemm atau memang aku yang udik tidak terbiasa dengan hal semacam ini ya, karena di Bojonegoro belum ada sesuatu yang semodern ini sih, belum ada integrasi teknologi praktis untuk mengajari bersikap dan berkarakter baik, kecuali lewat seminar seminar model cangkeman bertema teknologi he he

Melejitnya teknologi menjadi bensin bagi kehidupan bisa mempercepat pembakaran atau malah bisa membakar secepat cepatnya, well tinggal memilih saja, memang sih pemilihan aplikasi teknologi dan moda trasportasi bergantung pada kondisi wilayah dan kepentingan masing masing daerah kalau bojonegoro kyaknya sih memang belum butuh banget moda semacam KRL, jangankan KRLnya jalanan full paving yang belum ada puluhan tahun itu sudah tidak begitu layak dilewati dibeberapa bagian, apalagi jalanan di daerah daerah pinggiran yang masih sering full lumpur dan gak bisa dilewati sehabis hujan, ini masih soal sirkuit belom ke jet daratnya hehe
Memang benar jika ber KRL ini lebih cepat, lebih hemat dan ga bikin keringetan soalnya full ac he he, kurang lebih 1 jam perjalanan dari kota Patriot dan sampai di Jayakarta pukul 7 malam, dan waktu itu kuhabiskan bermalam minggu di antara kota Tua, thenks KRL!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s