Memoar

Kulajukan pelan motorku memasuki Jl. Sersan Mulyono, disepanjang jalanan sempit tak sepi lalu lalang roda dua itu kenangan tempo dulu kembali meletup letup. Deretan hunian minimalis, gedung TK, Masjid, toko kelontong, konter Pulsa, tak berubah menjadi penduduk tetap Sersan Mulyono. Nikmatnya Lontong sayur Bu Yok juga masih menjadi primadona di ujung jalanan bintara pangkat dua itu

Dikursi panjang berbusa separo tak berpinggiran itu aku biasa menghabiskan tengah waktuku, bercerita banyak dengan bahasa dinamis yang bisa kau nikmati dengan membaca, terkadang tulisan tulisan itu sedikit kubuat genit sengaja untuk mempengaruhimu, kubuat heroik untuk memacu keingintahuanmu, ahh bisa jadi semua itu hanya dalam rangka membangun citra. Tiba tiba soal Citra atau image ini menjadi menarik, bisa jadi apa yang biasa kita lihat itu dicitrakan sebagai kebaikan maka akan kita tangkap baik begitupun sebaliknya, bungkus membungkus itu hanya soal bagaimana memilih kata yang mampu memantik human interest yang akhirnya bisa menyentuh sisi melankolik kita, Ya tentunya hari ini poster, banner gambar calon calon itu sedang sibuk menggambar rupanya dengan balutan citra citra humanis, care, intelek, pro poor dan lain lain lah, dan kali ini Sersan mulyono telah mengguruiku
Hingga pada akhirnya Sersan Mulyono hanya akan mampu kulihat dari ujung lorong jalan nan jauh, dengan kebanggaanku telah menjadi bagian darinya. Hingga pada saatnya aku harus memilih banyak jalan lainnya untuk kulewati, dan aku percaya Sersan Mulyono tetap menjadi jalan istimewa dengan sejuta cerita, Terima kasih Engkau telah menyekolahkanku….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s