Catatan Ngopai

Siang itu setelah bergelut mesra dengan sang maha panas kusempatkan ngaso dulu, tau kan ngaso kalau dalam bahasa endonesa lazim dikatakan leren ahhh sama saja bahasa jawa itu ya, sengaja aku memilih leren di warung yang konon tempat sejuta inspirasi ciehhh, penampakan dari depan sih mirip warung kopi gitu deh. Kali ini bukan kebetulan karena memang aku penyuka kopi

Tiga buah bangku panjang dari kayu yang jelas bukan jati itu sudah penuh diisi beberapa kepala yang bukan muhrimnya karena sudah pasti mereka laki laki, asyik ngudut, sambil bahas reno reno sambil sedikit kusenyumi mereka itu, sesekali diselingi dengan seruputan kopi dalam cangkir kecil bergambar mawar, yang lainnya juga senada. Hidup enak sekali pikirku semacam mereka ini, punggung dan kepala seperti tidak ada beban,  entah mikir besuk beras mana yang mau ditanak, SPP anak yang belum kebayar, bahan lauk dan sayurnya, tidak ada gambar seperti wajah mbak ti yang sedang oleng ditatap pria berdandan klimis dengan jaket kulit, yang rupanya adalah dep colector
Meskipun warung kopi aku tak segan memesan es teh, karena hausnya minta ampun sudah tiga jam sibuk menjual cerita kesana kemari xixixi, es teh segelas datang tidak lupa es batunya buanyak biar sekalian dinginnya menjalar sampai kepala, segernya es teh tiba tiba mandeg ditenggorokan semacam keseleg, lek to menenteng gambar wajah laki laki berkacamatan sambil diarahkannya kemuka mbak ti, ki lo calon Anu tahun depan pie gelem mileh ora, tanya lek to kepada mbak Ti

Selain Lek to, ada pak di, herman, dan tutik yang juga ikut ikutan memegang kertas seukuran a3 lebih besar sedikit bergambar laki laki berkacamata, usut punya usut gambar gambar itu adalah pemberian perempuan berkerudung yang tadi papasan di depan warung kopi, ki lo bagianem nduk, sambil menyodorkan kluntungan kearah sarti, opo neh ki, celetuk sarti

Dengan wajah yang sudah sedikit melebar, senyumnya juga mengembang bibirnya nampak lebih merapat dan mengatup mbak ti lega si debt colector sudah amblas, mbak ti lebih fokus dengan hutangnya daripada foto foto calon anu, baginya tidak ada yang lebih keren selain orang orang macam pak di, lek to, heri dan kawan kawannya itu tidak ngutang kopi dan rokok di warungnya.

Sarti lebih serem lagi hari gini semuanya penuh perhitungan, penjual jamu keliling tiap jam tiap jam 10 pagi itu lebih jujur lagi, hari gini mana yang mau dipilih ya kudu ada angpaunya, kalau g ada ya tidak usah dipilih wes jamane gitu selorohnya
Lek to dengan tenang mengamankan situasi dari prasangka prasangka kurang baik, tenang ki mau nomorku wes dicatat mbak e, nanti kalau ada ndom ndoman kecipratan kabeh dengan gaya penuh optimisme. Masih sambil mendengar dan sesekali menimpali ,menikmati momen momen ini, kalau boleh kubilang orang orang macam mbak ti, lek to sarti dan kawan kawan ini cukup cerdas, antara pilihan, trpilih dan angpau itu satu kesatuan, mau dipilih ya harus modal masio ngutang begitu kasarnya, ganti transport ,ganti libut nguli, ganti libur sekolah de el el semua alasan bisa digantikan angpau, masa bodoh dengan berbagai program penanggulangan kemiskinan itu, program ini itu, ogepe apa lagi itu mendingan amplop jelas lebih bisa masuk dompet atau celengan kucing dirumah itu lebih realistis. So Sebuah keniscayaan bahwa berdemokrasi itu tanpa biaya, biaya berpolitik itu terbukti mahal. Jadi buat calon anu ini dan itu sekedar catatan titipan dari warkop mbak ti buat panjenengan,
selanjutnya saya ngeri ngbayangin duitnya calon anu anu itu brapa trusan ya xixixi

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s