Hijab is My Way Part 2

Melanjutkan proses yang masih berjalan, kadang proses tersebut mengubah cara fikir, tindakan dan akhirnya menjadi seuah karya kehidupan yang nyata, hasil dari sebuah proses menjadi hasil baik atau pun sebaliknya.

Sama halnya dengan proses saya untuk kembali brhijab, yes akhir dari proses adalah iam wearing hijab again, tapi sebelum memutuskan hal tersebut ada banyak hal dan juga tindakan yang menjadi andil dalam membuat keputusan tersebut seperti yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini.

Saat itu sekitar pertengahan tahun 2015 terjadi pergulatan dalam hati saya yang cukup membuat gusar dan suhu tubuh meningkat, tanpa banyak bercerita dan berkata saya mengambil sebuah inisiatif untuk memecahkan sumber kegundah gulanaan tersebut. Saya adalah tipe orang yang setia menjunjung tinggi nilai kebebasan dalam yang tertanam dengan motivasi “Freedom is Responsibility” atau indonesanya kebebasan adalah tanggung jawab. Menurut saya manusia memang benar adanya jika mereka dikutuk untuk menjadi bebas, seperti menukil ungkapan filsuf eksistensialisme Jean Paul Sartre.  Hidup itu bebas, kebebasan yang memilih, memutuskan dan bertanggung jawab. Kembali pada kenapa saya memutuskan untuk kembali berhijab, ibarat sebuah buah hal utama yang menjadikannya menarik adalah isi atau rasa buah tersebut, maka banyak yang akan kembali untuk membelinya lagi dan lagi. Sama hal nya dengan hijab bahwa yang utama adalah hati, maka itu yang menjadikan bahwa hijab tidak begitu penting.

Dan kenapa saya tidak begitu saja memutuskan kembali menggunakan hijab. Lalu saya pun berfikir bahwa perintah berhijab sudah tertulis dengan jelas dan kenapa saya  masih saja tidak menaatinya, konsep bebas yang dianut sartre menjelaskan bahwa bebas yang bertanggung jawab, yang menjelaskan kebertanggung  jawaban dari kebebasan saya adalah hasilnya. Hijab itu tidak wajib so biarkan saya bebas memilih jalan saya, tapi akan ada sebuah peningkatan yang siginifikan dari bentuk tanggung  jawab saya, dalam hal agama misalnya tidak bermaksud pamer atau apapun ya, cuma pingin nulis hehe, saya membuat sebuah target dan target saya bukan berhijab, saya membuat sebuah pertanggung jawaban dalam hal kebebasan saya yang ibaratnya tanpa berhijab kualitas keagamaan saya akan saya tingkatkan, misalnya shalat lima waktu, shalat duha dipagi hari dan shalat tahajud dimalam hari, serta berpuasa. Eng ing eng,…..pada awalnya hal tersebut berjalan sesuai yang saya rencanakan, dan ternyata ada sebuah perasaan dalam yang mengungkapkan tentang sebuah cinta. Dalam keheningan saya mulai berfikir dan sepanjang kegiatan saya terus berfikir begitu banyak yang telah Allah berikan, betapa Dia sangat mencintai kita, dan saya tersadar bahwa dalam suratnya Allah mengingatkan kita terntang perintah Hijab tersebut, dan kenapa saya tidak membalas CintaNya dengan menaati perintah tersebut. Mencintai rabNya akan berusaha menjadi sesempurna mungkin dimataNya. So….

Dalam hidup tidak ada yang lebih menarik dari kata bebas, tapi tidak ada kata yang lebih ajaib dari kata Cinta, ya kegusaran kegelisahan dan juga keputusasaan beberapa yang lalu mungkin saja diakibatkan karena takaran Cinta saya kurang kepada Allah, dan berusaha untuk menjadi sempurna dengan menaati segala perintah dan menjauhi larangannya. Satu kalimat terakhir, Freedom is responsibility, and only love can bound it.

Di ketik pada pukul 05.17-06.11 WIB

Bojonegoro, 29 November 2015

Arianti Achmad,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s